Puisi Bersemi

Saturday, August 28, 2004

Lembayung

Engkaulah pesan sejuta diam,
dari sang dewi malam,
yang segera ingin bertandang,
berarak warna di cakrawala,
menjemput surya yang kelelahan,
mengisyaratkan pada burung,
untuk berhenti meniti negeri pelangi,

Senja ah senja,
sayang lekas beranjak tua,
hingga tibanya sang dewi maam
menarik sudi untukmu pergi
dan sirna di langit merah tembaga

Aku dan Kau

Aku dan kau adalah sesuatu
yang tak jadi asing oleh ribuan jarak
namun aku dan kau
juga adalah sesuatu
yang tak jadi erat oleh persamaan gerak

Aku dan kau hanya sesuatu
yang dilerai oleh sang waktu
lalu aku dan kau menjadi sesuatu
yang dipertemukan oleh kenangan
Saat aku dan kau
tertatih di gugusan sunyi
memandang tiap sudut ketegangan
dan sketsa mimpi
...................................
Saat aku dan kau
berkisah tentang realita
di tengah rinai gerimis
yang sedang memadu rindu dengan cempaka

Aku dan kau hanya punya keceriaan biasa
kala sedang bersama
karena aku dan kau hanya punya
kerinduan sederhana kala kita berpisah
tak disatukan oleh dekat
tak dipisahkan oleh jarak
seperti itulah aku
dan begitu juga dengan kau

Perjalananku

Kini pagi tinggalkan kandang
Kembali pulang ke senja kala
Semua masih tiada beda
adalah hidupku tiada menentu
kelakarku bisu
jelang resahku gemuruh
hanya badan piatu
meniti jalan yang sukar sangat
kini adalah diriku yang membisu
bukan kawanku
Akulah paduka di kesamaran
Aku gulana dalam kungkungan
Seka noktah tak jua tercipta
Maka iba jelang saatku lenyap dalam tiada

Pasrah

Tuhan,
Dalam luluh kian kusadar siapa aku
Aku debu, aku buih,
terseret, tersisih tiada berdalih,
Aku bagai dunia
kadang malam sendu rawan,
kadang siang terang benderang

Tuhan,
Aku tak mampu
Aku tak sanggup
mengikis dosa yang tak luput berpaut

Tuhan,
di haluan kasih-Mu aku berserah
kini aku hanya pasrah
membayangkan sayap liar lantunku
retak di ujung kelana

Tirani Sunyi

Sebagaimana pagi kikis habis sepenggal malam
Kau kuras nafasku dalam pengap pelukmu
Sebagaimana tuan ajak nona memadu sayang
kau rayu aku berbagi hari denganmu

Aku memang ada dimana kau tak pernah tiada
Air mata, suka, dan duka
telah kau seka dengan penuh mesra
Kau pun ajarkan aku
bagaimana meremuk rindu dalam bisu
Bahkan kau juga ajarkan aku
bagaimana mencumbumu tanpa sedikitpun malu

Sunyi,
Serupa bocah hilang bunda
Kau meraja aku tak punya daya
Karena, bagaimana kudapat
berpaling darimu dengan berani
sedang Dia pun tahu
kau telah jadi kekasih
tempatku berbagi

Di Ujung Desember

Tak cuma lagu Desember kelabu
Bahkan atas nama pucuk-pucuk hijau
yang menggigil,
dan atap desaku yang berkaca-kaca,
ini adalah penantian,
teriakku pada dia yang kuseru kawan,
seperti hanya pagi yang lenyap
di atas kepala,
dan senja yang selalu diam-diam
menata paras malam,
akhir desember adalah kisah
yang berulang-ulang,
waktu dengan ketamakannya,
hingga,
ah aku bersumpah,
telah ku kata Dia sebagai pencuri sejati
lainnya mungkin tamparan,
tikaman, atau dari warna-warni ...

Duh mimpi,
duh mimpi yang masih tetap bernama mimpi,
inikah makna dari tatapan mentari yang gamang ?
Sungguh,
betapa karena semua itu,
diriku telah diawankan

Surat Pengelana

Teruntuk yang sendiri,

Kasih,
seperti yang telah kukabarkan
lewat bahasa yang tiga
saat ini,
aku masih mengemas luka dari segala ketertawanan
maafkan aku,
harus aku akui
di separuh kembara ini
aku belum sempat mengeja alamat kesetiaanmu
ya,
semua masih karena dongen yang sama
tentang aku yang tak bosan bermain angan dengan rembulan
yang selalu teriris di pucuk remang ..

Oh kasih,
Inilah seribu satu yang tak kufahami
meski disini telah kucoba isyarat musim
namun tetaplah sempurna jejak yang kehilangan
lalu dapatkah kau maafkan
aku berjuta kali lagi,
karena seperti yang selalu kukeluhkan pada air mata
aku tak sanggup pulang ke negeri amarah
aku tak sanggup terbang dengan sayap rindu
yang terpatah-patah

Kerinduan

Awan gelap pelan merayap
Saat anak dara berlalu
dari pelukan dewi lamunan
kemudian lara sendiri
nikmati kerinduannya
Lelah,
Lelah ia memahat langit dengan awan
Lelah ia mengukir malam dengan bayang
Sekeping hati terkoyak gelisah
kala yang hadir hanya wajahnya
dan juga masih wajahnya
Butir-butir mutiara kecil hanya
jatuh tak tergenggam
kala teringat juwitanya
yang tiada jemu menjauh
jauh, jauh dan selalu menjauh
mimpinya kini bagai sang malam
pekat kelabu
dan dirinya kini jadi
purnama yang merindu